Wawancara Bersama KH. Ust. Husein Ahmad Dahlan, Lc. MA

Wawancara Bersama KH. Ust. Husein Ahmad Dahlan, Lc. MA
Senin, 01 Juli 2019

Wawancara Bersama KH. Ust. Husein Ahmad Dahlan, Lc. MA

oleh Admin

Wawancara Bersama KH. Ust. Husein Ahmad Dahlan, Lc. MA

 

Mengapa Ustadz lebih memilih menyelesaikan S2 di Sudan, daripada di negara Timur Tengah yang lain ?

Kalau kita melihat daftar dosen penting dari Arab Saudi, Kuwait, Uni Emirat Arab, termasuk Qatar. Justru hampir 30% dosennya itu lulusan atau dari Sudan. Arab Saudi itu sekurang-kurangnya mengandung 300 dosen lulusan Universitas Sudan. Dan ternyata di Sudan ada University yang berlisensi Internasional. Yaitu Universitas Islam of Afrika, itu merupakan prototipe Universitas terbaik di Benua Afrika.


Apa motivasi yang Ustadz miliki untuk menuntut ilmu di Sudan?

Motivasi itu tidak boleh keluar dari Lillah. Karena kalau motivasinya hanya untuk mencari ketenaran maka 1 minggu saja mereka tidak akan kuat. Karena disana sangat sulit untuk menghadapi lingkungan, maka mustahil bisa bertahan hanya mencari ketenaran, tetapi yang bisa bertahan hanyalah orang berniat karena Allah S.W.T


Bagaimana Bagaimana cara Ustadz menumbuhkan rasa semengat menuntut ilmu saat berada di Sudan?

Salah satu caranya adalah ikhlas, yang selanjutnya adalah dengan punya tujuan yang jelas. Karena jikalau tujuan kita tidak jelas, maka semangat belajarnya akan cepat patah dan mudah menyerah. Dengan ikhlas dan tujuan yang jelas maka rasa malas dan semangat yang naik turun itu akan hilang dengan sendirinya.


Bagaimana cara Ustadz membagi waktu sebagai seorang pelajar yang sedang menyelesaikan S2 dan menjadi seorang mudir yang memiliki tugas sebagai pimpinan Pesantren Daarul fikri?

Pada saat menjadi mahasiswa, Daarul Fikri saya percayakan kepada orang yang ditunjuk. Jadi, Daarul Fikri itu bukan organisasi personal melainkan organisasi sistematik. 7 hari sebelum saya pergi ke Sudan , Daarul Fikri telah diserahkan kepada Pak Kartubi, beliaulah orang yang mengorganisir Daarul Fikri.
Apa kendala-kendala Ustadz selama di Sudan? Dan bagaimana Ustadz mengatasinya?
Sebenarnya kalau dalam menuntut ilmu itu, keindahannya adalah saat kesulitan dalam belajar, dan jika kita punya kendala, di Sudan kita punya kesempatan untuk bertanya kepada para ulama, insya Allah para ulama di Sudan siap 24 jam untuk siapa saja yang ingin bertanya.


Seperti apa kondisi Sudan yang terkini?

Kondisi Sudan Alhamdulillah baik. Masyarakat juga ramah pada setiap pendatang dari berbagai negara. Untuk lingkungan, terkadang masih tidak bersahabat, di Sudan itu hanya ada 2 musim saja, musim panas dan musim sangat panas dan biasanya ada ghubar (badai pasir/debu) biasanya sampai 1 hari full tetapi setelah ghubar itu Allah berikan kesejukan untuk masyarakat Sudan.


Seperti apa perbedaan sistem pembelajaran di Sudan dan Indonesia ?

Jelas sangat berbeda, kalau kita belajar bahasa arab di Sudan, insya Allah itu full dengan bahasa arab. Tetapi kalau kita belajar di Indonesia nanti pasti ujungnya juga dengan bahasa Indonesia. Selain itu kita pun kaya akan kosa kata, lain halnya dengan di Indonesia. Di Sudan kita juga senantiasa dimanjakan dengan literatur-literatur yang khusus bahasa arab.


Siapakah tokoh yang Ustadz jadikan idola atau contoh dalam menutut ilmu, sehingga Ustadz rela berkorban harta dan waktu, bahkan Ustadz pulang pergi antara Sudan dan Indonesia ?

Tentu Rasulullah SAW. yang menjadi idola saya dalam menuntut ilmu, karena Rasulullah SAW saja menuntut ilmu sampai sidratul muntaha dan langsung diajari oleh Allah SWT. Jadi jika belajar sampai Sudan masih dekat sekali. Selain Rasulullah saya pun mengidolakan para Sahabat Nabi, dalam menutut ilmu, mereka tak jarang harus berjalan selama satu bulan lebih. Untuk ukuran Sudan masih tergolong dekat, dapat ditempuh hanya 12 jam saja.


Apa kenangan yang menurut Ustadz sangat berharga sekali selama berada di Sudan. Mungkin bersama keluarga, guru atau sesama mahasiswa?


Yang paling berharga adalah bersama guru. Pernah suatu kali seorang guru datang ke rumah saya dan beliau bertanya kepada saya, “Antum mau belajar apa dari ana?" Saat itu saya merasa sangat malu sekali, sampai seorang guru datang ke rumah dan bertanya seperti be
gitu. Setelah guru saya pergi dengan mobil, saya lalu mengejar guru itu, menggunakan sepeda motor untuk belajar darinya. Mungkin itulah kenangan yang tidak bisa saya lupakan.


Apa pesan untuk seluruh santri di Indonesia, khususnya di Daarul Fikri agar selalu semangat dalam menuntut ilmu ?


Pesan saya kepada seluruh santri adalah agar terus belajar, karena belajar itu sampai akhir hayat. Jangan pernah berhenti belajar, karena dengan belajar kita akan selalu punya pengetahuan & wawasan.

Komentar

    Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar

Testimonial

Menjadi cerdas dan dewasa tidak lagi membatasi seberapa tua umurmu. banyak hal untuk mewujudkan semu... selengkapnya

-Balqis | Universitas Al'ulum At-tatbiqiyyah Alkhossoh Amman Yordania

Banyak yang saya dapatkan selama belajar di IMAD Daarul Fikri. Selain di bekali ilmu pengetahuan da... selengkapnya

-Aginanjar | Universitas International Of Africa Sudan

Alhamdulillah selama saya belajar di I’dad Mu’aalimien wa Ad-du’aat (IMAD) Daarul Fikri , saya... selengkapnya

-Sandra | Universitas internasional Khortoum Sudan

Alhamdulillah ilmu agama yang saya dapat kan selama di Daarul Fikri menjadi bekal saat ini, sehingga... selengkapnya

-Reza Mozan | Universitas Sebelas Maret

Alhamdulillah ilmu yang saya dapatkan dari Daarul Fikri khususnya dengan adanya program tahfidz Qur'... selengkapnya

-Karisma

MasyaAllah , bagus sekali yayasan yang menaungi Lembaga Pendidikan dan Dakwah juga Sosial , sangat b... selengkapnya

-Anggi Nurjaman